(RELIGIOUS SOCIAL APPROACH)

Oleh: Dr. Agus Zaenul Fitri, M.Pd

A. Pendahuluan Strategi belajar mengajar dalam sistem pendidikan dan pengajaran merupakan sebuah medium atau cara untuk mengantarkan anak didik pada tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Disini, walaupun secara substansi pendidikan diorientasikan pada tujuan dan sasaran pendidikan, namun untuk dapat membidik tujuan dan sasaran dengan tepat diperlukan metode dan strategi yang efektif, karena keduanya mempunyai nilai yang sama-sama penting. Dalam adagium ushuliyah dikatakan bahwa “Al-amru bi al-syai’ amru biwasaa’ilihi”, wali al-wasaili hukmu al-maqoshidi”. Artinya “Perintah pada sesuatu (termasuk didalamnya adalah pendidikan) maka perintah pula mencari mediumnya (metode dan strategi), dan medium baginya sama hukumnya dengan apa yang dituju. Dalam sebuah ayat dalam Al-Qur’an juga dinyatakan “Dan carilah jalan (strategi) yang mendekatkan diri kepada-Nya dan bersungguh-sungguhlah pada jalan-Nya”.(Q.S. Al-Maidah : 35) Tulisan ini lebih mengedepankan pada upaya pencarian strategi belajar mengajar yang efektif dalam upaya menumbuhkan aspek-aspek spiritual keberagamaan pada peserta didik, khususnya mahasiswa di lingkungan PTAIN. B. Strategi Belajar Mengajar (Tinjauan Konseptual ) Persoalan pendidikan sebenarnya sederhana, yakni persoalan bagaimana mengantarkan peserta didik pada tujuan dan sasaran pendidikan yang diharapkan. namun secara tehnik-operasional, usaha untuk mengantarkan pada tujuan dan sasaran tersebut tidaklah mudah dan ringan, membutuhkan proses yang panjang, untuk itu diperlukan strategi yang tepat agar proses pendidikan tersebut lebih terarah kepada tujuan yang hendak dicapai. Proses pendidikan dan pembelajaran secara sederhana dapat digambarkan dalam bagan berikut; Gambar 01: Proses Pendidikan dan Pembelajaran Bagan di atas memberikan ilustrasi bahwa masukan mentah (raw input) dalam hal ini murid atau peserta didik, yang merupakan bahan baku yang diberi pengalaman belajar tertentu dalam proses belajar-mengajar (teaching learning process) dengan harapan terjadi perubahan pada murid menjadi keluaran (output) dengan kualifikasi tertentu, keluaran pendidikan kemudian menghasilkan nilai balikan (values-feedback) yang disebut (outcome) dan pada tahap akhir adalah adanya dampak (impact) dari lulusan yang dihasilkan baik terhadap lingkungan pendidikan maupun masyarakat secara luas. Di dalam proses belajar-mengajar itu ikut berfungsi pula sejumlah faktor yang dengan sengaja dirancangkan dan dimanipulasikan guna menunjang tercapainya keluaran (output) yang dikehendaki. Disamping itu ikut pula berpengaruh sejumlah faktor lingkungan, yang merupakan masukan lingkungan (environmental input). Berbagai faktor tersebut berinteraksi satu dengan yang lainnya dalam upaya menghasilkan keluaran (output) yang dikehendaki. Dalam proses belajar mengajar (teaching-learning process) terdapat strategi yang harus direncanakan secara matang, tepat dan acceptable agar output yang diharapkan akan benar-benar sesuai dengan tujuan. Strategi pendidikan pada hakekatnya adalah pengetahuan atau seni mendaya gunakanan semua faktor/ kekuatan untuk mengamankan sasaran pendidikan yang hendak dicapai melalui perencanaan dan pengarahan dalam operasionalisasi sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan yang ada, termasuk pula perhitungan tentang hambatan- hambatannya baik berupa fisik maupun yang bersifat non fisik (seperti mental spiritual dan moral baik dari subyek, obyek maupun lingkungan sekitar). (Arifin, 1991: 58). Secara sederhana strategi belajar mengajar adalah cara melaksanakan pengajaran atau cara merancang “jalan pengajaran”, untuk itu diperlukan langkah-langkah pengajaran. Penentuan dan pelaksanaan langkah-langkah tersebut banyak dipengaruhi oleh banyak hal antara lain; faktor tujuan pendidikan, faktor kemampuan guru, keadaan alat-alat yang tersedia dan keadaan peserta didik. (Tafsir, 1991:132). Faktor-faktor tersebut secara umum dapat digambarkan dalam ikhtisar berikut : Gambar 02: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar Adapun langkah-langkah mengajar secara sederhana, menurt Robert Glaser dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 03: Langkah-langkah dalam Mengajar Berdasarkan model pengajaran Glaser tersebut, maka strategi belajar mengajar paling tidak harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut; 1. Menentukan Instructional Objectives. Dalam menentukan (instructional objectives) tujuan pembelajaran tidak boleh menyimpang dari Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), KD tidak boleh menyimpang dari tujuan pendidikan yang hendak dicapai oleh bidang studi yang disebut dengan SK. Selanjutnya Standar Kompetensi Lulusan (SKL) harus sejalan dengan tujuan yang hendak dicapai oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan atau disebut dengan Tujuan Institusional (TI). Tujuan institusional ini harus sejalan dengan tujuan pendidikan nasional (TPN) sesuai dengan amanah Undang-undang sebagaimana tertuang dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, dan tujuan pendidikan nasional harus sejalan dengan tujuan pendidikan universal. Tujuan pendidikan universal adalah tujuan pendidikan yang diinginkan oleh manusia pada umumnya, yaitu manusia yang baik. Tujuan yang harus dipahami oleh guru meliputi tujuan berjenjang mulai dari tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, tujuan umum pembelajaran sampai tujuan khusus pembelajaran. Secara umum kata tujuan dalam pendidikan di Amerika memiliki beberapa istilah, misalnya aim, goal dan objective. Akan tetapi istilah ini pada dasarnya memiliki konteks yang berbeda antara satu sama lain. Menurut Kennet T. Henson dalam bukunya The Curriculum Development for Education Reform, kata aim, goal dan objective memiliki perbedaan dalam stratifikasi dan ruang lingkup tujuan. Gambar 04 berikut menjelaskan tentang pengertian dan contoh masing-masing. Gambar 04: Perbedaan antara aim, goal dan objective) Dalam pendidikan, ada istilah aim (tujuan pendidikan nasional), yaitu sesuai dengan amanat undang-undang dasar 1945 dalam pembukaannya alinea empat, dijelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional kita adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian pada goal (tujuan institusional pendidikan) misalnya, membentuk pribadi manusia yang beriman dan beraklak mulia serta mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan objective (tujuan pembelajaran) disesuAikan dengan Kompetensi Dasar (KD) misalnya dalam pembelajaran pendidikan agama Islam untuk anak kelas IX bab I tentang fungsi manusia sebagai khalifah, tujuan pembelajarannya yaitu “siswa dapat membaca dan paham ayat-ayat tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi.” Proses pembelajaran tanpa tujuan bagaikan hidup tanpa arah. Oleh sebab itu, tujuan pendidikan dan pembelajaran secara keseluruhan harus dikuasai oleh guru. Tujuan disusun berdasarkan ciri karakteristik anak dan arah yang ingin dicapai. Tujuan belajar adalah sejumah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru yang diharapkan tercapai oleh siswa Menurut Oemar Hamalik (2003) komponen tujuan pembelajaran, meliputi: (1) tingkah laku, (2) kondisi-kondisi tes, (3) standar (ukuran) perilaku. Dalam model pengembangan kurikulum seperti kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tujuan pembelajaran disesuikan dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang diukur melalui indicator-indikator pencapaian keberhasilan pembelajaran. Perilaku belajar dalam KTSP diukur dengan indikator yang jelas. Misalnya, mampu menjelaskan, mengungkapkan dan mengaplikasikan suatu konsep atau teori tertentu. 2. Menentukan Entering behavior Entering behavior adalah langkah untuk menentukan kondisi dan tingkah laku peserta didik yang mencakup kondisi umum serta kondisi kesiapan kemampuan belajarnya, termasuk dalam langkah ini adalah melakukan tes awal (pre tes). Kaidah yang mendasari entering behavior adalah “kita tidak boleh mengajari orang yang belum kitak kenali”, Mengenali peserta didik dilakukan dalam menentukan entering behavior peserta didik tersebut, siapa peserta didik itu, bagaimana latar belakang kehidupannya, keadaan fisik dan mentalnya, terutama kesiapannya menerima pengajaran baru. Semuanya ini harus diketahui guru sebelum ia mulai mengajar dan inilah kegiatan entering behavior. 3. Menentukan Instructional Procedure. Langkah ini dianggap paling penting, paling sulit dan paling rumit. keberhasilan mengajar banyak sekali ditentukan oleh bagian ini. Untuk menentukan ini mula-mula pendidik atau pengajar hendaklah mengetahui lebih dahulu macam-macam pengajaran menurut jenis pembinaan yang harus dilakukan. Menurut Bloom (1956), bahwasanya ada tiga domain pembinaan pada manusia, yaitu: kognitif, afektif dan psikomotorik. Berdasarkan ketiga domain binaan itu dapat ditemukan jenis-jenis pengajaran dan metode pengajaran yang dipakai sebagai berikut: Pertama, pengajaran yang dicakup dalam ranah kognitif, jenis pengajarannya berupa pengajaran verbal, pengajaran konsep dan pengajaran prinsip. Pengajaran-pengajaran ini masing-masing mempunyai urutan langkah tersendiri Pengajaran verbal adalah pengajaran bahasa dengan prosedur mengajar yang relatif banyak. Demikian juga pengajaran konsep dan prinsip mempunyai banyak teori tentang urutan (langkah mengajarnya). Kedua, pembinaan afektif. bagian ini kelihatannya kurang berkembang pengajaran seni dan agama dan semua pengajaran yang dimaksudkan sebagai pengembangan aspek afektif amat sulit dijelaskan urutan langkah pengajarannya. Dalam hal ini amat berbeda bila dibandingkan dengan pengajaran verbal, konsep dan prinsip, seperti yang terdapat dalam aspek kognitif. Ketiga, pembinaan psikomotor. Pembinaan ini berupa latihan ketrampian untuk menguasai gerak tertentu secara otomatis. Dalam konteks agama tahapan ini menekankan pada peserta didik untuk dapat menumbuhkan motivasi dalam diri sendiri sehingga dapat menggerakkan, menjalankan dan mentaati nilai-nilai dasar agama. 4. Performance Assessment, yaitu menentukan cara dan teknik evaluasi. Bentuk-bentuk dari Performance Assessment seperti mengadakan tes akhir (post tes). Tes ini dilakukan setiap selesai mengajar atau setiap kita selesai mengajarkan satu unit bahan pelajaran.

About RAJA PENA

I am lecturer concerned on educational management

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s